Home » , » Cerpen; Dongeng Cinta Dari Nenek

Cerpen; Dongeng Cinta Dari Nenek

Posted by ARIE CELLULAR on Wednesday, 18 June 2014

    
Masih  lekat dalam ingatan ku , saat aku berada di bawah naungan pohon bambu. Di belakang rumah. Bersama Nenek ku, kami memeluk luka dan lara dengan dongeng- dongeng cinta yang Nenek ceritakan kepadaku da kakak ku. Nenek dengan baju lusuh membungkus badanya yang kurus,  bercerita apa saja yang bisa membuat kami senang. Dan dari Dongeng-dongeng itulah aku mengeja Cinta yang Nenek ajarkan. Dengan penuh  haru."
"Nenek Bau," begitu aku mengejeknya. Bila kami melewatkan waktu bersama. Saat pagi sebelum berangkat sekolah. Atau malam saat Nenek memeluk ku sebelum tidur. Aku menyesap baunya. Bau khas seorang pekerja keras yang rela terbakar matahari demi sesuap nasi. Demi menghidupi aku dan kakakku, kak heny.

Bau Nenek, yang dulu selalu aku jadikan alat untuk mengoloknya. Bukan karena aku dan kak heny terlalu nakal. Tapi karena kami ingin mengenang Nenek dengan segala baunya. Terbukti saat Nenek pulang dari sawah, kami akan berlari menyambutnya tiba. Bergelayut manja pada tangannya yang basah oleh keringat bercampur air sawah yang kumuh, selepas menanam padi.

Kejam sinar mentari membuat tubuh Nenek ku kian menghitam dan lengket. Namun, aku dan kak Heny selalu adu cepat dalam berebut, membawakan baju Nenek yang kotor dan segera mencucinya. Dalam segala keterbatasan, kami selalu berbagi tawa dalam menjemput rezeky yang Nenek dapat dengan bertaruh nyawa.

Mungkin bagi kebanyakan Orang, Nenek ku hanyalah petani biasa. Manusia lemah yang tidak punya kedigdayaan. Namun bagi kami Nenek adalah seorang Pahlawan keluarga. Pahlawan kehidupan. Juga Pahlawan dalam membela sesamanya.

Pernah suatu ketika, Nenek tak kunjung pulang dari sawah. Kami cas menunggunya di teras rumah. Badai hitam mengamuk, menghantarkan gunungan ombak ketepian. Aku menangis sesengguk an. Kak Heny kerepotan meredakan tangisanku yang panjang.

"Nenek pasti pulang. Nenek pasti datang. Dengan membawa banyak uang, "kata kak heny menenangkanku. Dan kami berpelukan.
                                                   
Aku selalu mengagumi Nenek saat dia berorasi di depan Gedung Kota. Menyuarakan perlawanan atas ketidakadilan. Atas hukuman runcing di bawah, mencekik kaumnya sesama Nelayan dan Petani.

Aku tak pernah jemu melihat bagaimana Nenek melawan tangan-tangan kekuasaan. Memberontak kepada para pengusaha serakah yang hendak menjadikan tanah leluhur kami, untuk di jadikan pabrik dan mal mal. Tanpa ada kompensasi apapun. Hanya berbekal sertifikat palsu yang juga di buat oleh pejabat yang miskin hati Nurani.

Masih ku ingat bagaimana airmata Nenek berderai ketika orang-orang kami kalah. Terusir dari rumah kayu yang kami tempati selama ini. Atap-atap berguguran bagai daun jatuh mencumbu tanah. Dan dengan berat hati, kami harus rela menimbun segala kenangan indah bersama kepulauan debu yang di sebabkan oleh kendaraan penghancur impian, yang merekan namakan BULDOZER.

Dari tanah Blado, Munjungan kami menepi menuju pinggiran Kota. Dan Nenek beralih profesi dari Nelayan menjadi petani. Namun tak henti ujian mengunjungi kami. Ketika datang orang-orang berbaju rapi, menyulut perintah pada pekerja untuk menanam Ranjaudi tepi pantai. Menutup permukaannya dan di jadikan pemukiman baru. Orang-orang kota menamakan Reklamasi. Menyulap tempat indah dan tenang itu menjadi Hotel dan tempat Hiburan. Serta mal mal besar tempat persinggahan. Sungguh, tangan-tangan kuasa itu telah memperkosa keindahan alam. Dan tentu saja kami, orang-orang yang kian kemari kian terpinggirkan.

Aku sangad mengagumi Nenek saat demikian. Dia adalah wanita yang Tegas dan Tegar. Ia bacakan Puisi, Suara hati dari kaum yang terzalimi, saat melakukan aksi Demonstrasi. Begitu penuh perasaan. Tak jarang aku melihat air mata Nenek menggenang pada matanya yang memerah. Merah karena tiap hari harus melawan pantulan sinar matahari di tengah sawah.

Sekalipun, Nenek tak pernah marah padaku. Bila dia tak menyukai sesuatu yang kuperbuat bersama kak Heny, semisal saja kami bertengkar, memperebutkan kelereng, Nenek hanya memandang tajam pada kami berdua. Tanpa Kata Tanpa Suara. 
Lalu matanya akan berkaca-kaca seolah membawa kami berdua masuk ke masa lalu saat kami bertiga terpaku di ambang pintu. Saling merangkul bahu melepas kepergian Ibu. Iyach, ibu yang hanya aku kenal sampai aku berumur 3tahun. Sebelum dia pergi meninggalkan kami ke kota mengikuti seseorang yang dia cinta.

Ibu pergi karena Ayah sudah tak ada. Selain itu, ia pergi karena tak tahan dengan kemiskinan yang kami derita. Hingga ambisi untuk mencari pria lain yang lebih menjanjikan, menutup hatinya untuk memberi kasih sayang kepada kami.

Saat berduka, Nenek selalu mengingatkan kami akan sakitnya sebuah perpisahan. Pertengkaran demi mendapatkan sebuah keinginan, egois karena mementingkan ambisi, hanya akan berbuntut duka dan penyesalan.
Secara tidak langsung, kami belajar kami belajar dari apa yang tertera disana, pada garis bening di pelupuk matanya yang memandang iba. Lalu aku dan kak Heny, pasti akan memegang dan mencium punggung tangan Nenek. Kami menangis bersama. Dari terpaan luka-luka ini, kami membangun ikan cinta yang kukuh untuk melawan kerasnya jalan takdir yang harus kami taklukkan.

"Langkahkan kakimu menyusuri lika-liku dunia, Cucuku. Disanalah akan kau tempuh samudera Ilmu,"begitu kata Nenek. Yang memelukku erat sebelum melesat, menembus dinding jarak dan waktu. Merantau ke beberapa belahan dunia. Menjadi seorang Tkw di negara tetangga. Mengubur malu dan gengsi demi bertahan hidup secara mulia. Karena kata Nenek, menjadi Tkw lebih mulia daripada menjual harga diri.

Dan aku pergi. Mengikat janji bahwa "aku akan giat belajar". Menuntut ilmu setinggi langit, walau sampai ke negeri china padanya ku katakan, "Nenek, aku pergi berbekal dongeng cintamu." ku peluk Nenek ku kuat-kuat. Ku cium bahu Nenek ku dan ku tanam dalam benak serta lembar hatiku yang paling dalam.

Dia Nenek ku, wanita kurus kering berambut keriting itu Pahlawanku. Seorang yang telah membawaku meniti tangga kehidupan. Hingga saat ini, aku bisa bersekolah dengan layak seperti teman-teman yang lain.
Sambil sekolah, Aku dapat tawaran menjadi pengajar sukarelawan di kampungku. Dengan segala keterbatasan ilmu yang ku punya aku meng iyakan dan menerima. Alhamdulillah, ini sebuah anugerah yang luar biasa untuk keluargaku.

Telah tiba saat dimana aku akan mengambilalih sebyah tanggung jawab untuk ganti menhaganya. Saat dia hanya dapat duduk tak berdaya. Dengan mata yang memburam ia memandang hamparan laut yang muram oleh kekejaman zaman. Kehilangan keindahan, keagungan, kemuliaan pantai tanpa semburat jingga di antara mega-mega yang berarak pulang ke peraduan.

Camar tak lagi menyanyikan lagu kemesraan. Dan keindahan pantai blado lenyap bersama kenangan. Berganti gedung-gedung tinggi yang menggambarkan kesombongan.

"Nenek mengeluh, "Aku merindukan kebebasan. Rindu deburan ombak yang mengayun perahu di tengah lautan. Rindu tawa anak-anak yang menyambutku kala tiba. Berebut tangan dan berebut mencium bau ku. "aku terdiam mendengarnya."

"Aku ingin kesana Rik. Menghirup aroma garam dan menikmati sapuan badai yang menghempas tubuhku." Mata Nenek nyalang mencari sesuatu di tengah lautan. Namun tak lagi ku dapati ia menangis. Dalam desahnya aku dapat merasakan dia sedang bergumam, melantunkan sebuah dongeng cinta yang bertahun silam pernah kami ceritakan bersama.
Nenek larut dalam angan-angan. Sebelum ia memintaku untuk memapahnya kembali ke pembaringan. Melepas penat dan jenuh karena tikam tidak keadilan. Kini Nenek tenang, damai dalam dunia keabadian.





Thanks for reading & sharing ARIE CELLULAR

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Search This Blog

Popular Posts