Home » , » Kumpulan Puisi Karya Zarry Hendrik

Kumpulan Puisi Karya Zarry Hendrik

Posted by ARIE CELLULAR on Wednesday, 28 May 2014


            
Assalamu`alaikum wr.wb
Kali ini saya mau posting puisi-puisi kesukaan saya
Dari seorang Penulis Gokiel Bin Romantiss Bin Melakonisss Cieeee ^_^
ZARRY HENDRIK namanya
Siapa Zarry Hendrik??
Bang Zarry ini  adalah Pujangga yang lagi Happening  di Twitterland.
Penggambaranya singkat,
Zarry Hendrik adalah Pecinta Kata
yang mampu membuat kata-kata  yang begitu mudah untuk diCinta.
Yang Pengen tau lebih banyak Tentang Zarry Hendrik
Ikuti Keseharianya di Twitternya  @zarryhendrik
Baiklah kita mulai dari Puisi yang Paling saya sukai hEheeee
                                            
                                       
                TUHAN
Izinkan aku melihat jutaan lembar di hari
yang sudah di catat Malaikat
Tentang betapa aku memalingkan
wajahku dari uluran tangan
melarikan jiwaku dari panggilan
yang gemar membicarakan nama MU
dengan sembarangan
supaya hati yang keras ini bisa menangis
dan mengucilkan diriku sendiri
 yang lebih kotor dari air kubangan
 TUHAN...
Mengapa KAU sungguh ingin memanggilku terus



AKU TIDAK MENANGIS
Aku tidak menangis.
Mata hanya lelah mencegah mimpi yang buruk.
Aku tidak menangis.
Kau hanya bertahta di dalam mata,
begitulah cara aku membasuh kakimu.
Aku tidak menangis.
Ini susah payahku menyebut namamu memakai mata.
Aku tidak menangis.
Hanya menahan tawa sampai mata berair.
Aku tidak menangis.
Ini letih lesuh mata yang berkeringat mencarimu semalam suntuk.
Aku tidak menangis.
Hanya ingin memandikanmu di dalam mata.



UNTUK KITA  YANG  PERCAYA  BAHWA  CINTA  ADALAH  ADA
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada,
bahwa memaafkan tidak seberat memikul dendam.
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada,
bahwa kita juga percaya bahwa ada rasa saling menghormati kepercayaan di dalam cinta
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada,
senyum dalam derita adalah kekuatan yang menguatkan.
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada dan untuk
Tuhan yang membuat cinta menjadi ada,
mari kita bersulang di dalam doa!
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada,
terkadang kita menyalahgunakan keberadaannya.
Untuk kita yang percaya bahwa cinta adalah ada sedari awal kita memulai,
kita hanya perlu saling meyakinkannya di tiap hari.

Tak pernah kulihat indah sehina ini.
Tak pernah. Lututku patut bertelut dengan getar geletar yang paling tulus untuk mengakuinya.
Aku memohon ampun, aku tahu aku salah, aku amat merasakan kesalahanku,
sebab karena mencintaimu, aku menakut-nakuti diriku sendiri.
Pernah aku mencoba dengan susah payah
di hadapan benda-benda mati untuk sedikit saja memberi senyum kepada hari yang tanpa kau.
Tetapi apa? Aku gagal. Aku bukan manusia yang tanpa cela,
sekalipun aku berdiri di antara putik-putik pujian yang beterbangan.
Aku manusia yang membutuhkan maaf.
Kehadiranmu masih sangat membangkitkan aku yang tertelungkup di bawah jendela waktu,
agar aku dapat berdiri dan lekas menghirup nikmatnya makna di dalam nafas.
Kaulah pemaaf yang paling aku cintai. Kau!
Oleh karena ada kau aku berkata kepada Tuhan;
 "Lindungilah ia yang bersujud dengan menabur air matanya saat meminta aku kepada-Mu, ya, Tuhanku."





KACAU
Aku terkikis ke lubang senyap
oleh waku yang tak cukup sanggup
menyapu bayang-bayang mu
Seakan aku begitu kecil
untuk berdiri di atas kenangan yang meraksasa
Tidak kah kau ingat...
Kau seperti melepas tali yang menjerat di leherku
Namun ternyata Kau hanya memindahkan tali itu
Dan mengikatnya dalam hatiku
Terkurat...
Itu aku di pelosok hatimu
Hati yang menjadi aneh
semenjak Engkau terseret Zaman
Setiap aku bertemu malam
Aku termenung...
Aku ingin menjauh dari sinaran bulan
 yang seolah melototiku
Seuntai jiwa yang berubah menjadi asing
menjadi sepi tanpa hadirmu
Kau jangkrik?
Yaa...ada sarang jangkrik
di dalam hati yang kau campakkan ini
Sunyi....membosankan ....
Aku ingin pulang saja dengan kereta
dan kenangan tentangmu
biar berjejeran di atas relnya
biar terlindas , hancur, berantakan....
seperti aku sekarang ini
Maka saat angin membawa bunyi langkah
kereta listrik itu untuk menepuk pundak ku
ku harap seketika aku tersadar dari lamunan
sudah terlalu lama aku kikuk
ini lebih menyiksa dari menahan kantuk
sebab, ada kuk yang tak ku lepas
yang tidak ku letakkan di atas telapak tangan Malaikat TUHAN
itu engkau, sosok menyilaukan yang menipuku dengan senyuman
Apa aku cukup kuat di belai takdir ??
pertanyaan bodoh!!
sementara berat ku pikul penglihatanku
Aku berubah ringan menarik urat
seakan senyum susah sekali
sudah seharusnya kah aku marah
betapa aku ingin menarik segala nama" hewan buas
dan memperkenalkanya pada hatimu
aku rasa aku pantas kembali dan memaksamu
membalas senyuman yang lebih lebar dari senyuman para penipu
karna aku tak kan terharu saat menemuimu
yang sedang bermesraan dengan orang yang beruntung
dengar tampan....
kau bisa jatuh ke tanah seperti bersama dedaunan kering
kemudian tersapu angin jauh dari pohonya
Maaf...
ini maaf untuk diriku sendiri bukan untuk engkau
mungkin karna pernah merindukanku
kau jadi mampu merindukanya
wajahmu kembali merah bibirmu kembali mekar
tapi sebentar jangan kemana-mana
bersiap-siaplah menyambut karma
helai demi helai di kala dulu akan segera terkibas angin
Kasihku...
mungkin kekasih yang sangat menggelikan
atas ulahmu di Masa lalu aku masih KACAU seperti ini
HEBATT!!


TAWA JADI TEMPAT SEMBUNYI
Aku tersenyum itu caraku membias luka
Aku tertawa itu caraku untuk sembunyi
Aku jadi seringkali berhasil membuat orang
tertawa di atas kesedihan ku
sebab kesenangan ku dulu
sudah banyak membuat ia sedih
bila aku semakin lucu itu karna ia semakin jauh
mungkuin ini karna banyak yan membenci aku
saat dulu ia ada di dekat aku
setiap hari aku harus mencicipi bayang-bayang pahit
setiap hari aku harus mengenyangkan kepala ku dengan itu
kekonyolanku adalah hal yang paling menyentuh
aku akan menunggu semua orang dapat memeluk aku
yang tidak henti-hentinya bertingkah kocak
sampai saat aku tertawa sendiri
mereka jadi akan terpukul
sementara saat-saat ini tawa mereka hanyalah buah demi buah
yang tumbuh dari caraku melarikan kepedihan
bila ini melemahkan ku mengapa tidak melelahkan ku
tawa jadi tempat sermbunyi



BINGUNG JUGA
Ada yang kalau berbohong berbicara begitu serius
Ada pula yang bercanda terus sampai mengatakan kejujuran
terkadang aku berada di tengah-tengahnya
Terhimpit tertekan....
Dan tidak tau jalan keluar
aku jadi tidak yakin akan semua hal
aku jadi menyimpulakan sendiri
segala pertanyaan yang ada di kepalaku
aku tau aku siapa ...
Namun aku malu saat aku tau
aku ingin mengatakanya dengan jujur
tapi ia meragukanya
 ini karna aku dapat mengatakanya dengan baik
aku menyusun kata-kata ku dengan begitu rapi
sedang aku tidak berniat membuatnya senang
Ia berfikir kata-kata ku yang tidak jelas
telah merangkai pelangi di kepalanya
jadilah aku di peluknya dengan erat
sekarang siapa yang salah
apakah kata-kata tidak cukup menciptakan aku dalam benaknya
ataukah aku harus melompat-lompat di belakangnya
biar ia merasa aneh keudian menoleh
Bingung juga


SEMOGA TIDAK KAMU LAGI 
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia
bukan karna aku tidak ingin melihatmu bahagia
melainkan karna bukan aku yang membahagiakanmu
itu menyakitkan seperti pukulan yang sebenarnya
ingin membuatku tersadar
mungkin ini waktu untuk aku terpuruk
supaya aku dapat melihat TUHAN
memakai kenangan ini untuk di penuhi kesiapan
Namun ketahuilah ...
sebelum aku sudah tak lagi mencitaimu
kini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu
mengelilingi tubuhku
dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di fikiranku
ada satu hal yang sampai hari ini membuatku bangga
itu karna ...
aku mampu terima kamu apa adanya
aku meminta ampun kepada TUHAN
sebab aku pernah berharap
kalau suatu saat ketika angin
menghempasku hilang dari daya ingat mu
aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi
sebab....hidup bagai dinding yang dingin
aku harus menjadi paku
sebab...kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya
memukul aku memukul aku
sampai aku benar-benar tertancap kuat
pada akhirnya... Semoga tidak kamu lagi
yang aku lihat sebagai cahaya sebelum pulasku
Semoga tidak kamu lagi


SAYA SELALU INGIN SAMA SEPERTI PUISI
Saya selalu ingin sama seperti puisi
di tulis di baca di hayati di rasakan
Saya selalu ingin sama seperti puisi
menyentuh memeluk menyembuhkan
ya...saya selalu inginsama seperti puisi
Puisi para penyair hebat bukan puisi saya
puisi saya berantakan sulit di mengerti
setiap kata bagai kepingan
seperti gelas kaca yang pecah
dan belingnya berserakan di lantai
kertas adalah lantai bagi saya saya berjalan dengan menjinjit diatasnya
khawatir...saya terluka oleh tajam kata-kata saya sendiri
tadinya hati bagai gelas yang utuh
dan ia menuang cinta untuk ku teguk
sayang...cinta itu terlalu mendidih
saya tak kuasa menggenggam gelas
saya tak cukup taha dengan panasnya
jatuh...gelas yang saya pegang itu jatuh ke lantai
hancur berserakan dekat kaki saya
dan ia menangis kemudian pergi



TIDAK DI CINTAIMU
Karena aku sudah terlanjur mencintaimu
Seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya
Sekali-pun laba- laba telah membangun sarangnya dalam hatimu
Sesungguhnya aku tidak ingin keluar.
Atau biarlah di dalamnya aku di sekap
Dengan nafas yang terengah- engah
Teriring isak yang tersandung- sandung di tenggorokan
Inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak
Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu
Ada baiknya aku memohon ampun
Mengakui kelemahan
Menjunjung tinggi belas kasihan
Dan tak lupa berterima kasih
Aku tidak ingin hanya sekedar ada
Tapi siap dan lagi bisa
Bila lengah mata melihat
Atau lelah pundah memikul
Ketahuilah, langkahku tetaplah engkau
Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu
Lalu menggelinding di atas setiap esokmu
Bagiku, wajah yang di pukul kelak masih lebih ringan
Daripada tidak di peluk kamu di saat- saat seperti ini
Karena tidak di cintaimu adalah sesuatu yang baru
Yang membuatku merasa asing di antara segala hati yang membuka pintunya kepadaku
Di dalam tubuhku
Di dalam hidupku
Kaulah darahku
Alasan degup jantungku
Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup- hidup
Ataukah aku melantur?
Tidak… Aku hanya takut menjadi bangkai dalam hatimu
Itu saja

puisi karya Zarry Hendrik


TULISANMU DI HIDUPKU
Kau menulis di dalam barunya hidupku
Kau hantarkan huruf-huruf yang sesungguhnya tak kukenali, aksara yang siapa tahu indah
Namun hati siapa yang dapat menerjemahkannya?
Hatiku?

Ribuan lembar cerita yang hanya mampu kupandangi dengan menganga
Mimik polos yang begitu saja terlempar
menyorot kata demi kata
Entah kata-kata itu berbaris atau menumpuk begitu saja
Entah kata-kata itu dirangkai atau porak poranda
Tetapi mungkin kata-kata itu dipenuhi warna,
seperti sekumpulan kelopak bunga yang terbang ditiup angin di musim gugur
atau jangan-jangan
bunga-bunga itu jatuh dari kepal tanganmu,
yang sengaja kau taburi kepadaku
seakan aku adalah makamnya


Menyedihkan
Ternyata cinta terlalu kuat, terlalu mudah meremuk aku.
Aku mengigil dan semakin merasakanmu.
Kedatanganmu bagai malaikat.
Kepergianmu, seakan ada malaikat menghantuiku.
Tersiksa, ini menyiksa.
Mendakwai diri seperti ini.
Hati menjadi diam dan terpelintir oleh masa lalu yang berputar-putar di dalamnya.
Semakin retak, patah mendekat.
Sekarang aku tidak mengerti apa maunya takdir. Sudahkah perpisahan ini dicatat oleh malaikat?
Semoga saja tidak.
Namun ini kamar yang sepi.
Benda mati kupaksa memasang telinga, menjadi teman untuk bicara, yang mengerti kerinduanku.

Menyedihkan.



AKU MERINDUKANMU
Aku merindukanmu. Ini sesuatu yang besar,
yang tidak cukup kusimpan dalam kepalan.
Ini sesuatu yang tidak kecil, ini benar-benar aku rasakan.

Aku tahu, ada begitu banyak hal-hal yang mendekatkan,
yang belum kita lakukan, yang belum kita hadapi bersama-sama.
Sebab bebutiran rindu berikut kobar cemburu yang menyala-nyala
akan menuntun kita pada warna rasa yang keemasan.
Berkilauan, terang kemilau yang mencengangkan,
gemerlap pesta di dalam sepasang mata.
Bagaimana ini tidak menakjubkan?
Aku benar-benar mengilhaminya.

Rindu kan ada, baik di pagi, siang, sore, maupun malam,
berikut hari berganti hari dan tahun depan menjelang,
juga mendung, cerah atau berawan, atau baik kemarau maupun hujan,
atau biar salju turun sekalian!
Ini aku berpijak di atas puncak kerinduanku.
Aku melihat awan-awan yang menggumpal tebal, menutup cantik segala kesalahanmu.
Aku lupa, hanya ingat kebaikanmu, terlebih kelucuanmu yang menggemaskan.

Aku sudah berteman baik dengan bayang-bayangmu, bayang-bayangmu menemani sisa hidupku.
Dan karenanya benda-benda mati jadi tampak seakan memusuhiku, memerangi kesunyianku.

Aku merindukanmu.
Aku memanggilmu dengan suara yang keluar dari jantungku,
dalam gerak yang tergambar dari nadiku.
Karena aku tahu, ada tersisa banyak hal-hal besar yang belum kita lewati di bawah langit ini,
di atas bumi ini, di dalam hati kita.
Demikian aku merindukanmu, demikian aku benar-benar merasakannya.



Kapan Kau Datang Lagi?
Kapan kau datang lagi, membangunkanku tidur,
mengingatkanku bahwa waktu itu berharga saat denganmu?
Kapan kau datang lagi, menjemputku pergi,
membawaku ke tempat yang kau pikir kita bisa tenang di sana?
Kapan kau datang lagi, menemuiku yang tidak tahu bagaimana lagi jika tanpa kau?
Kapan kau datang lagi? Kapan?


SAMA-SAMA DI BAWAH LANGIT
Bila aku harus menjauhimu,
aku akan memulainya dengan berjalan mundur.
Aku akan menghayati lambai tanganmu di selangkah demi selangkah.
Kemudian saat mataku mulai berkaca-kaca, aku akan berkedip untuk membiarkan pipiku pasah.
Aku akan menangisi jarak sambil menaruh harap untuk melayang-layang di atas tanah.
Karena sejauh apapun kita terpisah, kita hanya sama-sama di bawah langit,
masih di dalam bumi yang tidak lelah berputar terus.


DRAFT
Lihat cara kalian mengikat seseorang atas dasar kasih sayang.
Saya tahu, tidak mudah, bahkan mutlak,
untuk tetap berpegang kepada sebuah prinsip bersama yang harus disetujui ;
Yaitu nama baik, keyakinan dan kehormatan. Apapun caranya, harus!
Tetapi aneh.
mengatur, mengikat lalu mengancam.
Itu yang saya dengar dari aduan seseorang yang tidak tahu lagi harus mengadu kemana.
Cara kalian mengatur seperti mempersilahkan kami untuk melanggar.
Cara kalian mengikat,
seperti membuat kami terpaksa untuk berontak.
Dan cara kalian mengancam malah terasa seperti tidak ada jalan lain untuk kami selain melawan.

Tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikiran kami untuk menentang wewenang,
jika perasaan kami tidak terus menerus dipojok-pojokan.
Sekarang jangan bahas “kami”.
Tapi bahas “dia” : Si polos yang harus selalu melintasi pagar rumah sebelum jam 7 malam.
Jika kalian ingin kita berpisah,
tetapi rasa curiga itu terus menumpuk hingga kalian mengikat kakinya dengan tali yang mudah menggores kulitnya, apa bedanya?
Sama saja kalian sedang membentuk pribadi yang kalian sayangi itu,
menjadi pribadi yang mudah lepas kendali. Dengan atau tanpa sayapun, dampaknya sama.

Sekarang dia harus menangis sendirian di dalam kamar,
mendengar bentak amarah yang hingar bingar mengalir dari dekat pintunya.
Itu sama dengan tekanan psikologis yang harus terus menerus dia tahan sampai akhirnya meledak dan mengguncang kesabarannya.

Tanpa mengurangi rasa hormat.
Saya tidak menantang sedikitpun.
Mungkin saya bukan pria baik-baik,
persis seperti apa yang sudah didengar atau diperkirakan.
Tetapi serius, tidak sedikitpun ada niat dari saya untuk menjadikannya sama seperti saya.
Apapun bentuknya. Saya dan dia berbeda dan kita berdua mengerti itu.
Jika memang kita harus berpisah, izinkan kita dipisahkan oleh kedewasaan. Saya hanya tidak mau terus menerus dituduh rasa bersalah, melepas orang semudah membalik telapak tangan, orang yang mempertahankan saya di tengah pertentangan.
Ini terdengar menggelikan, di masa muda yang riang, kita masih berpetak umpat sampai sekarang.


PADA KENYATAANYA
Kau membasuh keringat di dahiku,
kau memberikan aku semangat.
Kau memberikan peluk yang hangat,
kau mengerti benar airmataku. Kau menanyakan isi perutku,
kau mengajakku makan,
dan sesekali kau menyuapiku dengan tawa kecil yang bisa segera aku rindukan.
Kau mengantarku pulang,
kau menemuiku di tengah-tengah keramaian.
Kau membuatku tetap tersenyum dan bertahan,
sekalipun siang sudah berganti malam.
Pada kenyataannya kau tidak mencintaiku,
kau hanya seorang penyayang.


UNTUK  KUAT KU
Kulihat jarum detik pada jam dinding di kamarku.
Ia bergerak bagai penyorak,
memberiku tarian penyemangat
untukku tetap ingin mendapatkanmu.
Mungkin ini maksud sang waktu,
menunggu ketepatannya bukan berarti hanya berdiam diri,
seperti mata kosong dari balik jendela
yang menunggu kereta Santa Klaus lewat di langit.
Tetapi inilah aku, tak genap aku tanpa hatimu.
Aku tak bisa mengayunkan tanganku
kemudian laut berdiri dengan ombaknya,
bukan pula aku yang meletakkan satu persatu bintang di angkasa
sampai kemudian nampak begitu indah.
Maka aku sungguh mengerti,
tidak hanya dengan aku menjetikkan jari lalu hatimu ada dalam genggaman.
Kaulah bagian tersulit yang aku kenal dari suatu kebahagiaan.

Dengar! Seperti awan yang berjalan di atas kotaku yang membosankan ini,
tak pernah sekalipun aku berpikir untuk berhenti dari niatku meneduhkanmu.
Tidak hanya dengan hati aku mencintaimu,
tetapi pula tenaga sebagaimana kau tercipta untuk jadi kuatku.

Suatu saat, di hari-hari epan yang menyenangkan,
aku yakin,
itu adalah hari untuk aku mengenang perjuanganku yang tak percuma ini;
untukmu.


GELETAR YANG MENGGESA
Tolong, jangan buat aku surut akibat pujukan hati sendiri!

Aku memang tidak mengindahkan hal yang baik
untuk menghidangkan bait per-bait dan kata per-kata,
maka jika rentak nadanya tidak sesuai dengan telingamu idamkan,
maafkan! Ini-itu adalah resah.

Jari per jari ini begitu didesak hati yang risau dan tergendala oleh rasa yang pelik
sehingga aku menebak, kalau menembakmu dengan peluru plastik yang konyol
adalah lebih baik daripada didera rindu terus menerus.

Tolong, jangan buat aku berpikir lagi tentang sudah berapa hari aku telah mengenalmu,
 durasi satu detik memimpikan dirimu saja adalah harmoni.

Ini bukan fakta yang tanpa kesan dan jangan menyangka ini adalah tipuan, karena tidak mungkin aku menyuguhkannya kepada hati yang terkenal terbuat dari karang yang jelas tidak akan pernah mempan oleh helah muslihat zaman sekarang.

Jika simbol senyum adalah tanda suara hatimu yang berkenan..
aku janji, tidak akan sekali lagi membuatmu pusing.

Hari ini, aku geletar.



JIKA INI CINTA
Aku akan percaya ini cinta
jika bersamanya di bawah terik matahari
aku malah merasa teduh

Aku akan percaya ini cinta
jika terjebak dengannya di tengah serigala
aku tetap merasa tenang

Aku akan percaya ini cinta
jika menjauh dari Sang Pencipta
aku jadi merasa takut

dan aku akan percaya ini cinta
jika melihatnya tertawa dengan lepas
aku sudah merasa cukup


Lengkapnya Sepi
Lama tidak dengar kabarmu,
bagaimanakah kamu sekarang?
Semoga kamu dijaganya baik,
jangan sampai percuma melepas aku.
Jauh dariku bukan berarti tanpa tertawa.
Meski ia tidak selucu aku,
janganlah jatuh air matamu.
Meninggalkan aku sendiri di sini kan
seharusnya bukan pilihan untuk bersedih sepanjang hidup.
Semangatlah untuk membuat dirimu mencintainya!
Memang sesekali aku coba mencinta dengan mencium,
mendobrak pintu hatiku dengan kecupan.
Namun apa mau dikata, malah luka perasaan orang.
Apa cinta yang meledak-ledak menghancurkan hati sendiri?
Sebab setiap bunyi hantaman keras,
kudengarnya bagai namamu.
Beberapa menyukaiku dengan lembutnya,
hanya tak sedalam kamu mengenal aku.
Kamu lebih dari masa lalu,
seperti pahlawan yang tidak mungkin hanya karena ada luka kecil,
dapat terlupakan perjuangannya.
Jika ada sejuta mulut yang menyoraki aku berengsek,
aku percaya kamu tetap memiliki suara sendiri.
Itulah!
Sesekali memang aku suka berkata bodoh,
membencimu karena jauh.
Sebab menyakitkan, kamu hadir untuk kuingat, seperti datang untuk berpamit.
Terkadang ini yang membuatku berharap cemas,
di mana kiranya keseluruhanku dapat rubuh,
sehingga dari atas panggung aku terjatuh,
kemudian mendarat di pangkuanmu.
Sekarang setelah semuanya ingin kumulai sendiri,
tiap kepingku telah menjelma menjadi nyawa
dan memberi hidup bagi tiap kata yang melengkapkan sepi setiap orang.


SADGENIC: Percakapan Ruang Tunggu  
Pagi ini aku berada di ruang tunggu bandara dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap. Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di kursi dan terbang bersanding dengan awan untuk tiba di kotanya. Meskipun berkali kali dia menerbangkan aku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu.
Awan seperti membaca gelisahku dan kemudian menggodaku, jutaan tetes air terpelanting ke bumi dengan keras. Ah, semoga hujan ini tak memperpanjang durasi dudukku di ruang tunggu itu.
HP ku bergetar. Terbaca nama yang selalu memenuhi kepalaku di layar.
Zarry : “Pancar sinar matahari disini begitu terang, seperti senyummu. Pagi disini, siap untuk menyambutmu :)”
Rahne : “Bagaimana bisa matahari menemanimu, dan hujan bersanding denganku, sementara langit kita masih sama bernama rindu”
Aku mengeluh, aku takut hujan ini menunda keberangkatanku.
Zarry : “Matahari hanya menemaniku, dengan sinarnya ia mengaku bahwa kamu masih lebih bercahaya darinya”
Aku selalu heran, bagaimana kata-kata yang dia susun, bisa mengantarkan senyum tak berkesudahan. Aku membalas lagi.
Rahne : “dan disini, hujan menemaniku, dengan rintiknya ia berseru agar aku selalu bisa berteduh di matamu”
Zarry : “Senyumku tidak sedemikian lebar untukmu berteduh. Namun bila hujan memukul atapmu, ada pelukku untuk kau tidak kedinginan”
Seketika aku merasa ruangan ini menghangat, aku curiga ada seseorang yang mematikan AC. Tapi kurasa, abjad yang kau susun di layar, berhasil menembus hati yang menggigil karena rindu. Tapi tetap, selalu kunanti peluk itu.
Rahne : “Zarry, pelukmu tak dapat terganti oleh kata-kata, nanti, jika jarak kembali mengetuk-ngetuk jendela. Dekap aku selagi bisa”
Ya, entah kenapa jarak selalu suka berada di tengah tengah kita.
Zarry : “Aku tidak memerintahkan awan untuk merintikkan kerinduanku, tetapi tidak kah kau dengar rinduku memukul-mukul atap rumahmu?”
Ya hujan semakin deras, sederas rasa yang menyebar ke tubuhku.
Rahne : “Rindumu telah menembus nadiku, kini ia berlayar tepat di jantungku. Sungguh saat ini aku ingin memerintahkan kakimu, membawamu tepat dihadapanku”
Zarry : “Kuharap hujan dapat membuatmu menulis namaku di setiap kaca basah yang kamu jumpa, sebab dari timur langit aku memandangmu”
Rahne : “Percayalah, tak hanya di kaca lembab yang aku jumpa, kutulis namamu di papan langit sepanjang waktu yang aku punya”
Zarry : “Kau tahu? Ada banyak kata untuk kita melukis hujan, tapi lihatlah, langit saat ini sedang asyik menulis kita. Semoga Tuhan mau menjentikkan jari-Nya sekali saja, supaya tiba tiba di sana ada aku yang memelukmu dari belakang”
Aku tahu, kau ingin sekali berada disini menemaniku.
Rahne : “Tuhan tak hanya akan menjentik, dia akan bertepuk tangan saat hati kita bergandengan”
Ya.. mungkin semua akan bertepuk tangan saat kita bergandengan. Aku melumat senyumku sendiri karena terbesit rasa malu yang menyapu merah di wajahku
Zarry : “Disini aku berharap agar malaikat mau menendang aku sampai aku melambung jauh di langit dan kemudian jatuh di pangkuanmu”
Rahne : ” Ha ha ha jika benar begitu, disini, aku akan mengakarkan tubuhku pada kaki langit, menunggu waktu hingga kau tiba di pangkuanku”
Zarry : “Pagi ini aku seperti sehelai daun yang disentuh embun. Namun lebih dari itu, akulah aku yang cinta bumi dan juga kamu, Aku telah banyak melihat orang-orang yang pandai melukis pagi dengan baik, tetapi sekarang, pagi itu sendiri yang melukis kamu”
Rahne : “Sebentar lagi aku akan mendekat pada awan, akan kubisikkan padanya, “Tolong gerimisi Zarry saat ini agar dia selalu mengingatku, yang dirintikinya dengan candu, dan sejukkan dia selalu”.
Zarry : “Kaulah kata yang menyejukkan, seperti angin yang muncul dari kepak sayap malaikat”
Kulihat keluar jendela, hujan nampaknya sudah mereda, bersamaan dengan itu, semua penumpang diminta untuk bersiap siap, untuk masuk ke pesawat.
Rahne : “Pesawat sudah menungguku, karena kata-katamu, langit tak lagi menurunkan hujan padaku, tapi senyum yang berkepanjangan”
Zarry : “Kau, telah memasang nyawa di tiap jari tanganku. Nikmati perjalananmu, sebab kau perjalananku. Hati hati, hati”
Rahne : “Kaulah waktu yang ditetapkan, mengitari hidupku, memutari mataku, dan bersarang di hatiku”
Kuangkat kopor dan kulangkahkan kaki beranjak dari ruang tunggu itu. Persiapkan senyummu, Zarry. Sambut aku di kotamu


APA KAU PERNAH
apa kau sanggup meninggalkan ku
kau pernah sanggup mencintaiku
apa kau perlu membenci aku
aku pernah kau perlukan
apa kau ingin melupakan ku
kau pernah ingin ku ingatkan
apa kau mampu menyakiti ku
kau pernah mampu melindungki ku
apa kau bisa hidup tanpa ku
kau pernah bisa hidup dengan ku
apa kau mau menjauhiku
kau pernah mau mendekatiku
apa kau merasa harus memaki aku
aku pernah merasa harus memuji kamu
apa kau rela aku bersedih
kau pernah rela menangisiku
apa kau tidak percaya aku
dulu kau pernah meyakinkanku
apa kau tidak merindukanku
kau pernah sangat rindu padaku
apa kau mampu cari yang lain
kau pernah mampu terima aku
apa kau sanggup mengacuhkanku
kau pernah sanggup perhatikanku
apa kau sanggup menghindariku
kau pernah sanggup mencari aku
apa kau lari dariku
kau pernah mengejar aku
apa ku hina dimatamu
kau pernah sering memandangiku
apa kau hebat melukaiku
kau pernah hebat menjaga aku
apa kau tetap pilih yang lain
kau pernah tetap memilih aku
apa kau bangga hianatiku
aku pernah bangga kau setia
apa kau pernah


Perihal Perempuan-Perempuan Penyeduh Kopi
telah kucukupkan–kukecupkan segala ingatan yang menebar aroma kopi ke dalam kepalaku

pahit–membikin lelap enggan tandang ke segenap mimpi yang kusiapkan dari doa sebelum malam, dan aku membiarkan buih mengepul di ujung kantukmu, di sana, di gelas kopi yang mungkin telah menyesak di dapurmu. atau telah kaubersihkan dengan air mata sebelum lelaki itu memintamu menyeduh kopi untuknya.

aku maih menggenggam gelasku, yang bibirnya telah tipis–bergantian kita kecupi. aku tidak tahubagaimana sebuah kehilangan menyembunyikan diri di sebuah gelas kosong. barangkali yang lesap di sebalik seruputan adalah kemesraan, hanya menyisakan remah hitam. dan kita mengelam, disembunyikan setiap kecupan pada gelas kopi yang pecah.

kau tinggalkan gelas yang membeling itu di dapurku. kau tidak membersihkannya–membiarkan pahit merasuk hidung dan lidah, begitupula dadaku. kuseduh airmata yang tawar ke dalam gelas-gelas pecah, tanpa aroma kopi. dan kehilangan masih saja bersembunyi di sebalik gelas kosong yang pecah. seperti kepergian yang menyembunyikanmu.

bagiku kopi adalah sebaik-baiknya cinta yang mampu mengekalkan ingatan kepada segala, bahkan kepedihan. aku madih tidak paham apakah tuhan mengambil lidahku, ataukah tak ada lagi pahit dalam kopiku. sebab aku pun adalah hujan yang masih membasah kepadamu yang kemarau, dan menitipkan waktu di doa-doa yang gersang.

mungkin kopi di gelas lelakimu telah basi, bisa juga kian pahit. aku takkan memintamu menyeduh kopi untukku. dalam ingatanku engkau jelma hampa, setelah mata selalu terjaga–di dapurku gelas pecah telah binasa. aroma kopi meruap dari tangan perempuan yang menadah. ia mengenalkan diri sebagai penyeduh kopi yang tidak butuh gelas untuk menampung kesedihan. seduhlah kopi untuk lelakimu, sementara aku terjaga, mengaduk kopi di tangan perempuanku. dengan aroma kopi seperti aroma kecupanmu.


BUKAN SEKEDAR
mencintaimu bukan sekedar aku ingin mendapatkanmu. 
Tetapi aku ingin menjaga apa yang Tuhan anugerahkan kepadaku.
Memperjuangkanmu bukan sekedar menunggu suatu celah dimana aku bisa menaklukan dirimu.
Tetapi adalah bagaimana aku bisa menaklukan diriku sendiri demi kamu.
Mengharapkanmu bukan sekedar aku berlutut berdoa berulangkali menyebut namamu. 
Tetapi adalah percaya bahwa suatu saat nanti aku pasti takdirmu.

Memilikimu bukan sekedar bangga mendapatkanmu
Tetapi aku lebih merasa telah beruntung karena di sampingmu.
Merindukanmu bukan sekedar mengingat cerita yang pernah aku lewati bersamamu. 
Tetapi adalah betapa aku antusiasnya menanti hal-hal ajaib yang akan aku lewati denganmu.
Kamu; bukan sekedar wanita yang layak aku kagumi dengan jujur. 
Tetapi juga seorang wanita yang bisa apa adanya mengagumiku.  


IA
Ia handal dalam urusan tatap menatap
juga piawai mengusir lara
disapunya duka perduka
lalu menerjangku dengan berjuta perbendaharaan kata
itulah mengapa liuk tubuhnya mengunci mata
aku menjadi enggan berkedip walau sudah berkaca-kaca
bayangkan jika air matanya adalah senjata
pasti suara desahnya pun mengugut nyawa
Aku?
Pasrah.
Dibaris ini, aku kehabisan kata-kata. 


Merangkak Mengejar Maaf
Bukan karena aku melihat kau merangkak mengejar maaf 
dan terpeleset air matamu sendiri yang meredam lonjakan amarahku diubun-ubun. 
Menghadiahi dosamu dengan senyuman juga bukan atas dasar belas kasihan 
yang terkontaminasi keadaan waktu kita saling diam. 
Tetapi jangan sebut nama cinta dalam kasus ini. 
Karena sedari waktu kita menjalin rasa ini dengan perjuangan, 
naiknya pitam karena kita lengah harus selalu padam sebelum matahari terbenam. 
Itu sudah peraturan.
Sayang, memberi maaf tidak sama artinya dengan menahan sakit.
Meski kepercayaanku telah robek diayun kehebatanmu yang runcing, 
bukankah kau ikut merasakan perihnya menyakitiku dengan terpaksa? 
Tenanglah supaya aku bisa tenang.
Kini memberi janji bukanlah membeli hati. 
Karena bukankah nanti keingkaran akan menghantuimu sepanjang hari? 
Jadi resapilah tentang betapa kau takut kehilangan aku dipenghujung jalan.
Sekarang jangan sebut demi cinta atas kelemahan kita hari ini.
Kau tidak ingin menjual nama cinta untuk bela diri, khan?
Berarti pulanglah dengan hati yang merenung, lalu cium aku diesok harinya.
Cium dengan cinta dan demi cinta.
Karena semua yang terjadi hari ini adalah arti, 
bahwa oh sungguh betapa sempurnanya..
mencintai lewat ketidaksempurnaan.



MENGEPAK  BERGEGAS  PULANG
Aku berani sumpah!
Tanyalah langit, kalau kau tidak percaya!
Di tengah suara awan yang beradu tadi, mana bisa aku berleha-leha?
Sekarang coba pikir;
Aku itu tidak hanya berpijak di atas angin, tetapi juga polusi
Bahkan di dalam sesak yang mencekik,
di atas senapan yang membidik,
cuma kaulah yang kupikirkan di setiap detik?
Jadi, keselamatankulah yang seharusnya membuatmu panik
Bukan malah menuduhku centil menggodai mentari terik!
Sudah cukup langit yang cemberut hari ini
Jangan kau tambah lagi dengan raut memicing yang tak berseni
Percayalah, sayang!
Tidak sekalipun aku hinggap di pohon seberang
Sayapku sungguh mengepak bergegas pulang,
di tengah biru yang kian perlahan hilang.
Jadi tolong,
jangan kau haramkan tenagaku yang telah terbang membanting tulang,
hanya demi dirimu yang kusayang di antara segala sarang! 


RAYUAN
Tidak.
Tidak jika aku harus meninggalkanmu.
Karena aku akan mempelawa sukaria untuk menjadi atap di atas tubuhmu
sampai hujan duka yang deras menimpamu itu reda didalam pelukku yang teduh.
Karena kamu adalah susah dan senangku, sayang.
Tidak mungkin aku hilang di saat masalah membuatmu tegang dan kejang.
Jadi biarkan hujan badai menerpamu.
Itu sebenarnya hanya pertanda, bahwa kau akan segera menjadi mejikuhibiniu.
Dengar,
Kamu itu adalah satu dan tidak ada angka yang lebih menarik dari angka itu.
Karena itu, aku tidak pernah!
Aku tidak pernah tidak ada waktu untuk selalu memikirkanmu setiap hari.
Itu karena kamu adalah pagi, siang, sore, malam bahkan subuh.
Mana mungkin aku bisa meninggalkan seseorang yang setiap hari membuat hatiku luluh?
Jadi dengan adanya kamu,
aku adalah orang yang selalu tidak tahu.
Selalu tidak tahu, bagaimana caranya aku bisa tetap hidup jika tanpa kamu.


Salam Hangat erika n.s

                                                

Thanks for reading & sharing ARIE CELLULAR

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Search This Blog

Popular Posts