Cerpen: Cinta Anak ABG

 
      Siang dengan panasnya yang terik nggak cukup sehat untuk kulit halus, kurang bersahabat karena mengundang biang keringat. Tapi aku sudah terbebas dari rutinitas desak-desakan di dalam bus kota. Sekarang berlenggang di gank gank kecil perumahan penuh perhitungan. Bisa aja khan kejadian yang luar biasa seperti beberapa waktu yang lalu terulang lagi. Cowok baru paling cakep plus nyebelin di kelas yang menjadi musuh bebuyutanku itu tiba-tiba muncul di hadapanku hik... " sambil senyum-senyum sendiri.." gimana tidak, jika teringat Erik cowok pindahan di kelasnya via selalu kebayang pertengkaranya yang seperti anjing dan kucing.
      Tiba-tiba lamunan via di buyarkan oleh panggilan yang suaranya tidak jauh dari tempat ia berdiri. 
 "Vi..." Ternyata Erik yang memanggilnya.
Tuhan memang baik, lirih via sambil terenyum.
 "eeh kamu Er.. Mau kemana? Bukanya rumah kamu di gank yang itu tadi ??"
 "iyach, emm aku anterin yuck dari pada jalan sendiri..." ajak erik.
 "Makasih Rik, tapi aku pengen jalan kaki aja deh kayaknya, aku dah biasa jalan gini hehee... "jawab via sambil tersenyum"
" nggak baik loo cewek jalan sendirian di tempat yang sepi-sepi gini, "kata erik lagi"
"enggak apa-apa Rik, serius bentar lagi juga sudah nyampek kok. Kamu pulang dulu gie, ntar di cari mama mu."
"Baiklah, aku juga nggak maksa kok. Hati-hati ya... "Kata erik sambil berlalu meninggalkan via.
        Setiap langkah kakiku di iringi siulan kecil dari sela-sela bibirku. Bukan saja lega, tapi sangad ringan melangkah sendiri untuk segera sampai ke rumah. Enggak ada Santi nggak juga Ririn. Kami sepakat untuk enggak harus terus bersama dengan satu alasan akan memiliki banyak kesempatan lebih banyak dalam menarik perhatian cowok yang kami inginkan. Mudah-mudahan mbok ijah kali ini tidak memintaku kembali nimbrung dalam permainan antaran mamadan papa. Aku lebih tertarik menikmati kembali beberapa kejadian satu minggu belakangan ini dalam kenangan ku. Bagaimana Erik mengajak ku untuk barengan ke sekolah lalu meninggalkanku di tengah jalan hanya gara-gara cubitan kecil yang menurutku sangad mesra. Bagaimana dia meninggalkan harga dirinya  hanya untuk minta maaf padaku, huuh nyebelin...!! permainanya sangad sulit di tebak, apalagi saat ia mengusap wajahku dengan ikhlas yang aku pikir tulus tapi ternyata masih dalam permainannya juga. Dan terakhir bagaiman ketidak relaan Santi untuk kehilangan cowok itu, walaupun di antara mereka enggak ada apa-apa sama sekali. Aku tersenyum, itulah Expresi dari ketertarikanku pada kejadian-kejadian itu. Apalagi di meja belajarku masih berdiri tegak boneka Sinichi (Conan Edogawa) dan Ran Miniatur diriku dan Erik.
           "Non Via, itu ada ... di depan ada itu..." Mbok ijah kembali memanggil di ikuti dengan ketukan pintu sedikit kasar, suaranya jadi tidak terkontrol.
Pintu ku buka, wajah si mbok benar-benar di landa kecemasan. "ada apa Mbok, kayak orang takut?
"Enggak, siapa yang takut. mbok kan memang bagini keadaanya Non, sambil menarik tanganku seperti anak kecil.
''Apaan sih mbok pakek acara tarik-menarik segala, protesku penuh tanda tanya.
''Tuh  ada tamu buat Non Via. Orangnya cakep banged, hebat non Via dapetin cowok kayak gitu, ''ujar si mbok mulai jatuh cinta.
''Willi..!!lirihku terus mendekati cowok itu.
"Will, hai... sapaku.
Aku mengambil tempat duduk agak berjauhan dengan Willi.
"Hai juga,''balas Willi. Gimana kamu? lama nggak ketemu. Maaf kalau kehadiranku tidak berkenan di hati kamu. "Willi menangkap wajah malasku. Ternyata dia cukup peka juga.
  Sudah tau aku nggak suka pakai bilang-bilang lagi. Pulang sana cepat. Usirku dalam hati.
''Baik,.. Eh, kamu kesini ada apa? ''suaraku lemah nggak bershabat.
''Sorry kalau kamu nggak suka.
   eeiiizzz di ulang-ulang lagi, desahku jengkel.
''Aku .... Aku Kangen  Kamu. Beberapa kali nelponin kamu nggak di angkat, kenapa? Aku ada salah ya sama kamu, sehingga nggak ada waktu buat aku lagi.
''Enggak ada apa-apa. Aku sibuk banged denga urusan sekolah. kamu taukan menjelah ujian, banyak sekali tugas yang perlu diselesaikan dengan segera.''
''Owh, begitu rupanya. ''Willi kurang percaya dengan perkataanku. "Tapi malam ini kamu nggak sibuk khan?
''Ya di bilang nggak sibuk enggak juga, di bilang enggak, ada juga Tugas yang belum kelar.''
''Jadi aku ngganggu waktu kamu.''
''Enggak kok. Santai aja lagi, jangan ngerasa bersalah seperti itu.
  Aku dan Willi terdiam sejenak.
  Entah apa yang di pikirkan Willi dalam diam.
''Boleh nggak aku tanya sesuatu?"
Pasti ini alasan Willi berani datang ke rumah.
''Soal apa?'' Tanyaku pengen segera tau dsn selanjutnya berharap Willi segera angkat kaki dan meninggalkan rumah ku.
''Kita...ya tentang kita.''
Aku keselek saat menelan ludh. Tenggorokanku terasa kering. Nggak nyangka willi akan menanyakan itu. Aku bingung menjelaskanya. Buru-buru aku mengambil air di dapur.
"Maksud kamu apa?" Pertanyaan tolol aku ajukan, yang membuat willi sedikit terpernjat juga mulai nggak ngerti dengan pertanyaan yang aku ajukan.
''Bagaimana hubungan kita,Vi?'' Aku ngerasa ini tidak ada, apa kamu nggak serius dengan ucapanmu ?"
Tiba-tiba Willi memberi ku pertanyaan bertubi-tubi.
''Bu,,,bukan begitu. Aku butuh waktu untuk ngadepin semua itu, buat serius dengan hubungan kita. Lagian kita masih sekolanh, masih butuh waktu buat belajar. Ortuku juga belum ngasih ampu hijau buat aku deketin cowok. Aku harus konsentrasi pada sekolah, itu kataa mereka. Jadi kamu ngerti aku kan.
''Ya, aku ngertiin kamu. Yang penting kamu masih mau ketemu aku, angkat telfon aku, balaz smz aku. Kamu nggak keberatan khan?"
    Aku mengangguk nggak bersemangat. Ah,,, terpasa lagi deh. Ini juga kan hasil dari permainan yang aku ciptakan gara-gara si Erik sinting itu.
''Kalau begiu aku permisi dulu, pamit Willi nggak kalah lesunya. ''Salam buat ortu kamu dan makasih buat waktunya.'' Willi beranjak meninggalkan aku.
    Entahlah, akhir-akhir ini aku nggak rela jika hanya gara-gara Erik melihatku dengan Willi kmudian nggak menganggu ku lagi. Aku mulai menyukai caranya yang rada-rada sinting membuatku salah tingkah. Mungkin lain ceritanya klau ini terjadi sebelum dia mengusap wajahku dengan mesra, aku akan sangad bangga bisa mendapatkan cowok yang lebih keren diri dia, Willi... ya Willi pacar palsu aku waktu itu. Dan ia mengangkat bendera peperangan denganku. huuh... aku tertunduk lesu, masih nggak ngerti apa maunya hati.
''Viaaaaaa.......!! Mamaku memanggilku dari ruang tamu.
"Viaaaaaaa...!! Papapun ikutan memanggilku dengan nggak sabar.
''Non Viaaaa...!! Giliran si mbok memamerkan suara cemprengnya.
     Buseeetttttt  Alamat kurang bruntung bagiku. Pasti aku akan di sidang nih, pasti gara-gara  kenekadan Willi menemuiku.
"Awas jangan melarikan diri, ya!! Cepetan kesini cepetaaaannnn....!! Teriakan Mama memecah keheningan malam.
  Benarkan aku akan di sidang. Menyebalakn sekali. Mereka tetap saja menganggapku gadis kecil dengan sederatan boneka.
''Ada apa Ma, Pa, Bibi... Kelihatanya gembira sekali.''
''Duduk!" Hardik papa dengan wajah serius.
''ya,,,ya,,,Via duduk papa... jangan di bentak-bentak gitu dong kan berisik.''
 ''Kamu sembunyikan dimana teman kamu itu?''
''Teman via, maksud Papa siapa?
"Itu tuh cowok yang tadi kesini.''
''Pulang''
"Ah...Pulang. Inikan masih Shore. Jangan-jangan kamu usir ya. Kok sadis amat jadi Cewek.''
''Enggak kok, sumpah. Dia pulang sendiri. Tapi aneh deh, kok semuanya enggak rela dia pulang cepet.''
''Sayang aja, khan tuh cowok lumayan cakep. Kayaknya bisa buat nemenin kamu malam minggu seperti ini.' ''Mama mesam mesem mengejek.
''Ya Non, Si mbok khan sudah bilang. Tuh cowok khan cakep. Nyonya aja berkata begitu.''
''Loh-loh...semua kok pada suka sama dia. Ya udah buat Si mbok aja. Via mau ke kamar, awas jangan berisik.
''Viiii....'' Panggil Mama  masih penasaran dengan sikapku.
Aku hanya menggelengkan kepala, tanpa menoleh.
                                                                                                                         
                                                                                                                                   Bersambung