3 Warisan NABI

Dalam suatu hadits, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu'anhu menyebutkan warisan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang amat penting untuk kita simak.

أَنَّهُ مَرَّ بسُوْقِ الْمَدِيْنَةِ فَوَقَفَ عَلَيْهَا فَقَالَ: يَا أَهْلَ السُّوْقِ! مَا أَعْجَزَكُمْ! قَالُوْا: وَمَا ذَاكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟. قَالَ: ذَاكَ مِيْرَاثُ رَسُوْلِ اللهِ r يُقْسَمُ وَأَنْتُمْ هَاهُنَا، أَلاَّ تَذْهَبُوْنَ فَتَأْخُذُوْنَ نَصِيْبَكُمْ مِنْهُ؟. قَالُوْا: وَأَيْنَ هُوَ؟. قَالَ: فِى الْمَسْجِدِ، فَخَرَجُوْا سِرَاعًا. وَوَقَفَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجَعُوْا. فَقَالَ لَهُمْ: مَا لَكُمْ؟  فَقَالُوْا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ! قَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فِيْهِ فَلَمْ نَرَ فِيْهِ شَيْئًا يُقْسَمُ! فَقَالَ لَهُمْ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَمَا رَأَيْتُمْ فِى الْمَسْجِدِ أَحَدًا؟. قَالُوْا: بَلَى رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّوْنَ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنُ وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُوْنَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ، فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: وَيَحْكُمْ فَذَاكَ مِيْرَاثُ مُحَمَّدٍ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melewati Pasar Madinah, lalu ia berhenti di sana dan berkata, “Wahai penghuni pasar, betapa lemahnya kalian.” Mereka bertanya, “Apa maksudmu, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Warisan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian?” Mereka bertanya, ”Di mana?” Abu Hurairah menjawab, ”Di masjid.” Maka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Abu Hurairah bertanya, ”Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, ”Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid. Kami masuk ke dalamnya, tetapi tidak ada yang dibagi.” Abu Hurairah bertanya, ”Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, ”Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal dan haram.” Abu Hurairah berkata, ”Celaka kalian, itulah warisan Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.” (HR ath-Thabrani)

Pertama adalah shalat.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

 إِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَغَ قَلْبَهُ ِللهِ إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ ولَدَتْهُ أُمُّهُ.

“Jika ia berdiri untuk melakukan shalat, bertahmid kepada Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, dengan yang paling layak untuk-Nya, mengosongkan hati hanya untuk Allah semata, maka seluruh dosanya akan keluar seperti hari pertama kali ia dilahirkan dari rahim ibunya.” (HR Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah)

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَادَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ

“Seseorang dianggap shalat selama tertahan oleh menantikan shalat, tiada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya hanya semata-mata karena menantikan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua adalah membaca Al-Qur’an.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,                                                                                                                                                                                                                                
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى 
               
“Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya jika berpegang teguh padanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku.” (HR al-Hakim)

Ketiga adalah memahami halal dan haram.
Hal ini dinyatakan dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِى مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (at-Tahriim: 1)

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوْبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى     ذَلِكَ شَيْئًا أَدْخُلُ     الْجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ     

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ”Bagaimana penilaian engkau jika saya telah mengerjakan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambahnya dengan sesuatupun, apakah saya bisa masuk surga?” Beliau menjawab, ”Ya.” (HR Muslim)
 
Semoga bermanfaat bagi kita bersama, Aamiin ya rabbal Alamiin.